Pertumbuhan Ekonomi VS Pengangguran
Oleh : Kosih Kosasih
Komisi pemilihian umum (KPU) provinsi Jawa Barat (Jabar) menyelenggarakan rangkaian kegiatan pada kontestasi pemilihan umum Gubernur dan Wakil Gubernur yang bertajuk debat publik calon gubernur dan calon wakil gubernur (Cagub & Cawagub) pada hari senin (12/3/2018) di Sasana Budaya Ganesha, Kota Bandung, dengan mengangkat tema yaitu hukum, ekonomi, politik dan pemerintahan daerah. Pada kesempatan ini masing – masing pasangan calon menyampaikan visi dan misi serta gagasan yang akan dijalankan bila mana terpilih nantinya.
Ada hal yang cukup menarik dalam materi debat kali ini, salah satu pertanyaan yang diajukan oleh moderator kepada pasangan calon adalah mengenai pertumbuhan ekonomi Jabar yang cukup tinggi, tetapi pengangguran pun tinggi pula. Benarkah demikian?
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Barat sepanjang tahun 2017 yaitu sebesar 5,29 persen. Angka ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,07 persen. Pertumbuhan di Jabar didukung oleh hampir semua lapangan usaha, kecuali lapangan usaha pengadaan listrik dan gas serta pertambangan dan penggalian yang mengalami kontraksi masing – masing sebesar minus 11,42 persen dan minus 2,02 persen. Sedangkan pertumbuhan tertinggi dicapai oleh lapangan usaha Informasi dan Komunikasi yaitu sebesar 11,85 persen, diikuti oleh Jasa Lainnya sebesar 9,78 persen dan Real Estate sebesar 9,31 persen.
Berdasarkan lapangan usaha, struktur ekonomi Jabar tahun 2017 masih didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yaitu satu : Industri Pengolahan sebesar 42,29 persen yang memberikan andil sebesar 2,30 persen terhadap angka pertumbuhan ekonomi Jabar, kedua : Perdagangan Besar – Eceran; Reparasi Mobil – Sepeda Motor sebesar 15,10 persen dengan memberikan andil sebesar 0,71 persen, dan ketiga : Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 8,60 persen.
Tentu menjadi wajar bahwa pertumbuhan tertinggi disandang oleh lapangan usaha Informasi dan Komunikasi. Tak bisa dipungkiri, perkembangan teknologi di zaman sekarang tumbuh begitu pesat. Hal ini dibuktikan dengan lahirnya berbagai layanan e-commerce, sistem aplikasi di bidang pemerintahan dan pendidikan, layanan transportasi online dan sebagainya. Sementara itu, seluruh cagub dan cawagub pun mempunyai gagasan yang hampir sama dalam menghadapi era serba digital yaitu penerapan teknologi informasi baik dibidang pemerintahan, perdagangan, industri, melalui program – program unggulannya pada sesi debat.
Akan tetapi, perkembangan teknologi infromasi dan komunikasi akan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi Jabar manakala dibarengi oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang handal. Sehingga ini menjadi PR bagi seluruh pasangan cagub dan cawagub untuk dapat menghasilkan kebijakan serta regulasi yang berkesinambungan agar SDM Jabar siap menghadapi tuntutan zaman.
Sektor pendidikan menjadi salah satu solusi untuk menyiapkan generasi penerus yang berkualitas dan berdaya saing tinggi. SDM Jabar harus menguasai teknologi jika ingin bersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Pemerintah pun sudah memberikan dukungan khususnya untuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebagai penghasil tenaga siap kerja terutama pada lapangan usaha Industri. Ironisnya, justru angka pengangguran tamatan SMK pada tahun 2017 adalah yang paling tinggi di Jabar.
BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Agustus 2017 sebesar 8,22 persen. Tingkat pengangguran untuk tamatan SMK menjadi yang paling tinggi diantara pendidikan lainnya yaitu sebesar 16,80 persen. Dari data diketahui tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) terus meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah angkatan kerja. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja pada sendi – sendi ekonomi yang dapat menggerakkan roda perekonomian.
Walaupun sektor Industi Pengolahan mendominasi struktur ekonomi Jabar, ternyata penyerapan tenaga kerja tertinggi ada pada sektor Perdagangan, Rumah Makan dan Akomodasi yaitu sebesar 28,92 persen. Sedangkan sektor Industri dan Jasa sebesar 20,37 persen.
Menghadapi era revolusi industry 4.0, warga Jabar tentu harus mempunyai kompetensi yang cukup agar nantinya tidak menjadi penonton yang dapat mengakibatkan gelombang pengangguran menjadi sangat tinggi karena tergantikan oleh tenaga mesin. Tentu ini masih menjadi PR bagi pasangan cagub dan cawagub untuk dapat membuat formula regulasi yang berkesinambungan serta berkelanjutan jika terpilih nanti.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran pada tahun 2017 terjadi pada hampir seluruh komponen. Ekspor Barang dan Jasa merupakan komponen yang mengalami pertumbuhan paling tinggi, yaitu sebesar 11,54 persen, diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 6,28 persen, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga sebesar 4,63 persen, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) sebesar 4,77 persen dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah sebesar 0,23 persen. Sementara kontaksi terjadi pada komponen Perubahan Inventori sebesar minus 5,14 persen.
Masih berdasarkan pengeluaran, struktur ekonomi Jabar pada tahun 2017 lebih dari setengahnya didominasi oleh komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yaitu sebesar 65,76 dengan andil terhadap angka pertumbuhan ekonomi sebesar 2,91 persen. Dapat dibayangkan jika tingkat penyerapan tenaga kerja pada sektor – sektor ekonomi rendah, maka angka pengangguran pun akan tinggi sehingga bisa berpengaruh terhadap daya beli masyarakat terutama untuk kebutuhan bahan pokok.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tentu diinginkan oleh pemerintah provinsi Jabar. Namun, hal ini harus dibarengi oleh SDM yang handal dan berdaya saing. Sehingga pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat dan tentunya gelombang pengangguran dapat ditekan.

0 Response to "Pertumbuhan Ekonomi VS Pengangguran"
Post a Comment